Wednesday, September 20, 2006

Hai Nak


Hai Nak,
Ini cerita cinta dari Ayah dan Bunda buatmu. Tidak untuk dijadikan pegangan hidup, karena sudah ada Al-Qur'an. Untuk itu tidak pula sebagai tuntunan laku, karena Rasul telah tinggalkan Sunnah bagi kita. Cukuplah engkau ingat-ingat dalam setiap jatah waktu yang engkau miliki.

Hai, nak
Kau mungkin tidak ingat kalimat dalam setiap kali kami menimangmu tidur berisi permohonan : (1) Berisi pujian (2) Berisi tanda syukur (3) Berisi kesaksian (4) Berisi pengakuan (5)

Hai, nak
Kami mengajarkanmu makan dan minum, tidak untuk mengenyangkan perutmu, tidak pula untuk penuhi dahagamu. Tapi sekedar membantu agar engkau mampu menuntaskan kewajibanmu setelah itu. Dan ingat pada mereka-mereka yang masih mengais rezeki hari ini.

Hai, nak
Kami mengajarkanmu menggenggam tidak untuk menahan hak orang lain, tidak pula untuk merampasnya, tapi sekedar cara mempertahankan milikmu dan meletakkan sebagian isi genggamanmu pada tangan yang lebih berhak.

Hai, nak
Kami mengajarkanmu melangkah tidak hanya untuk menjejakkan kaki pada tempat yang engkau inginkan. Gunakan pelajaran itu nanti untuk tetapkan langkah pada jalan-Nya Walau berserak kerikil dan batu menyandung.

Hai, nak
Kami mengajarkanmu berbicara Tidak untuk berbual ria, tidak pula menikam musuh dalam fitnah. Manfaatkan kemampuan itu nanti untuk berbagi dan menyampaikan ilmu (6).
Dan selalu berdiskusi dengan-Nya.

Hai, nak
Duabelas purnama, itu dulu pelajaran buatmu. Bila Ia berikan lapang waktu akan kita teruskan pelajaran lainnya agar waktu yang terlewati dan setiap waktu yang tersisa selalu berisi pengabdian dan berlimpah dengan ridha-Nya

1 Istighfar (Astaghfirullah al'adzim)
2 Tasbih (Subhanallah)
3 Tahmid (Alhamdulillah)
4 Tahlil (La ilaha illa'Allah)
5 Takbir (Allahu Akbar)
6 Ilmu yang bermanfaat


Read more!

Monday, September 11, 2006

Siapakah Tuhan Kita ?

Tuhan kita adalah jawaban-jawaban hati kita
Saat hati ini bertanya :

Siapa yang paling kita ikuti ?
Siapa yang paling kita cintai ?
Siapa yang paling kita takuti ?
Siapa yang paling kita taati ?
Siapa yang paling kita puji ?
Siapa yang selalu teringat di hati ?
Kepada Siapa kita mengabdi ?
Kepada Siapa kita tertunduk berendah hati ?
Kepada Siapa kita pasrahkan hidup ini ?
Kepada Siapa keluh kesah dan pengobat hati ?
Kepada Siapa segalanya bermuara ?
Untuk Siapa hidup dan mati ini ?


Jawaban kita adalah Tuhan kita
Siapakah Tuhan kita sesungguhnya ?
Ya Tuhan.. Sebelum mati kami ingin benar-benar meNuhankan-Mu
Tolonglah kami berpaling dari tuhan-tuhan saingan-Mu
Karena kami sangat takut akan murka-Mu
Tolonglah kami agar kami sanggup mencintai-Mu
lebih dari segala cinta kami terhadap tuhan-tuhan kami saat ini
Ya Tuhan .. Ampuni dosa-2 kami.
Jika tidak, tentulah kami termasuk orang-orang yang rugi
Luruskan hati kami ya Tuhan

Amien...

Read more!

Juklak Sederhana

From : Adhika Dirgantara’s Weblog

Dalam kesempatan langka berdiskusi dengan Abdullah Gymnastiar di masjid kantor awal pekan lalu, ada tiga hal sederhana namun menarik yang saya coba catat. Diskusi ini agak langka karena kehadiran Aa Gym memang ‘tidak terlalu direncanakan’, semacam sekedar mampir sebelum memberikan pencerahan dalam kajian rutin di masjid Al Azhar Kebayoran pada malam harinya. Diskusi di masjid kantor sendiri dilangsungkan setelah sholat ashar berjama’ah.



Dalam diskusi singkat tersebut Aa Gym sedikit menguraikan mengenai penunaian tugas manusia seutuhnya dalam konsep yang sederhana, saya menangkapnya sebagai semacam juklak (petunjuk pelaksanaan) bagi tiap-tiap manusia dalam menunaikan setiap tantangan kehidupan yang menghampiri. Tiga hal tersebut adalah meluruskan niat, menyempurnakan ikhtiar (usaha) dan menggenapkan tawakal (penyerahan diri).

Sudah sepatutnya bahwa dalam setiap penunaian tugas, manusia menyandarkan niatnya pada keridhoan Allah SWT semata, orientasi ketuhanan yang pekat dan ketat. Tidak berharap pada hal lain selain bahwa apa yang dia akan kerjakan itu adalah hal yang sekiranya mendatangkan keridhoan Allah. Jika kemudian hasil kerjanya itu menghadirkan pujian orang, membuatnya populer, orang jadi lebih suka pada dirinya dan hal-hal lain, itu tidak lebih sebagai efek samping saja yang kemungkinan besar hadir sebagai sebentuk cobaan hidup berikutnya, namun substansi niatan tetap bersandar pada lillahi ta’ala semata. Ini yang bisa saya tangkap dari poin meluruskan niat.

Usaha yang sungguh-sungguh menjadi prosedur berikutnya yang harus ditunaikan setelah niatan yang lurus. Agak naif ketika niat telah lurus dengan orientasi ketuhanan, namun pelaksanaannya tidak dalam proporsi yang semestinya, lebih tragis lagi jika hanya mengharapkan keajaiban dalam penggapaian hasilnya. Ikhtiar merupakan bagian dari proses secara keseluruhan.

Prosedur terakhir yang juga tidak sepatutnya dilupakan ketika niatan telah lurus dan ikhtiar telah sempurna adalah tawakal yang genap, pengembalian seluruh daya upaya kepada kekuasaan Allah untuk menentukan hasil yang sepatutnya. Sebuah deklarasi pengakuan akan eksistensi terhadap kekuatan yang maha besar, jauh lebih besar dari upaya meluruskan niat dan ikhtiar yang telah disempurnakan, jauh lebih tahu mana hasil yang lebih baik untuk ditetapkan. Sebuah kesadaran seutuhnya bahwa hasil tidak selalu berbanding lurus dengan harapan yang telah tergambar dalam pikiran dan angan. Apa yang baik menurut kita dalam dimensi keduniaan belum tentu baik hakikinya karena kehidupan (ternyata) juga menyangkut dimensi akhirat (ukhrowi) tidak melulu keduniaan. Sehingga sudah sepatutnya manusia mampu berlapang dada terhadap hasil yang ditetapkan, apapun itu. Tidak perlu terlalu berpusing ria selama juklak sederhana ini telah ditunaikan dengan semestinya, toh Allah melihat proses bukan (sekedar) hasil.

Juklak yang sederhana dan memang begitulah sepatutnya, meski realisasi tidaklah sesederhana uraian. Dan tugas manusia pulalah untuk terus mencoba!


Read more!

Friday, September 08, 2006

Surat Buat Mas Ulil Absar Abdalla

Saya mencoba menulis surat ini di website www.islamlib.com, dengan mengomentari tulisan mas Ulil. Mudah2 an dibaca beliau.. dan bisa ditampilkan di websitenya.
ya.. sekedar saling menasehati saja.. mudah-mudahan Allah merahmati beliau..

Ass.Wrwb.
Mas Ulil yang baik,
Saya sangat salut dengan banyak tulisan anda..
Anda adalah seorang yang cerdas dan diberikan Allah suatu kelebihan sehingga anda dipercaya memimpin sebuah kelompok Jamaah Islam Liberal. Sebuah Jamaah yang endobrak tatanan berfikir yang "anda anggap" kuno, tradisional, jumud atau mandeg.
Tapi mas Ulil yang baik...
Tolonglah, tulisan dan faham anda sudah dibaca banyak orang, sudah dibaca banyak generasi terutama generasi muda dan kalangan kampus.
Kita tinggal melihat hasilnya mas Ulil ya..
Apakah dengan paham yang mas Ulil ajarkan itu akan menjadikan mereka berakhlaq baik atau justru sebaliknya. Apakah mereka akan menjadi orang yang bijaksana dan sangat toleran dengan berbagai perbedaan atau justru menginjak-injak keyakinan orang lain yang berbeda dengan dia, seperti banyak kasus : => penginjakan Lafaz Allah di kampus IAIN Surabaya, dan "anjinghu Akbar" nya mahasiswa IAIN Bandung. Juga dikeluarkannya buku yang sangat mendukung Pernikahan sejenis di IAIN Semarang.

Masa Ulil yang baik...
Saya yakin anda jauh lebih pintar dari saya dalam hal ilmu agama, karena anda seorang dengan latar belakang santri...
Tapi mas Ulil... sebagai sesama manusia, apalagi sesama Muslim itu bersaudara.. saya mencoba ( mudah-mudahan saya pantas untuk itu ) ingin berbagi sapa, cobalah mas Ulil tanyakan kepada hati nurani anda...
Apakah anda masih mempercayai isi Alqur'an..??
Apakah anda masih mempercayai isi Al-Hadits..??
Apakah isi Qur'an dan Hadist itu benar2 dari Allah dan Rasulnya.
Dan kenapa anda bersikukuh bahwa cara berIslam yang baik itu harus sesuai dengan tafsir dengan metode hermeneutika anda, dan tafsir2 sebelumnya anda anggap tak sesuai dengan dinamika kehidupan saat ini ?

mas Ulil yang baik...
saya mungkin orang bodoh... sangat bodoh dan tidak pinter seperti anda. Saya tidak pernah mengenyam Pesantren seperti anda sehingga ilmu agama saya akan kalah jauh..
Tapi jika sesuatu itu salah ( atau sebut saja tidak pas jika tak ingin berdebat salah / atau benar ), saya rasa apa yang anda ajarkan dan sebarkan, kok tak terasa bijaksana. Sangat menyakitkan dan tak menghormati orang-orang yang banyak berjasa kepada Agama Islam baik dahulu maupun sekarang. Banyak dari mereka berjuang membina akidah dan tauhid bagi umat Islam, tapi bangunan akidah tsb ( sudah banyak diruntuhkan oleh paham pluralisme anda ).
mas Ulil yang baik,....
Kenapa mas Ulil harus takut dengan perbedaan..
Kenapa mas Ulil mengharapkan semua orang harus berpikir bahwa semua agama itu sama. Kalo begitu buat apa saya tanamkan aqidah pada anak-anak saya.
Buat apa Pak guru Agama, Pak Kiai capek2 mengajarkan tauhid dan keyakinan bahwa Allah adalah satu, tempat bergantung, tidak beranak dan diperanakkan, dan tak ada satu zat pun yang menyerupainya ? ???? Buat Apa Mas Ulil???

Mas Ulil, semoga Allah mendengan jeritan saya ini dan mudah2an Allah masih membukakan pintu buat Anda untuk kembali kepada jalan yang lurus..
Allah telah mengaruniai pikiran-pikiran anda yang cerdas, tapi saat ini saya anggap anda sedang keseleo berpikir.
Ya Allah, jika Engkau berkehendak, apapun bisa terjadi..
Jika Engkau ingin memalingkan hamba-Mu dari kebenaran sangat mudah, begitupun jika anda ingin mengembalikannya dari kesesatan menuju kebenaran-Mu , itupun sangat mudah.

Ya Allah.. mudah-mudahan Engkau masih menyayangi hamba-Mu..
Mas Ulil, mudah2 an masih bisa berpikir dengan pikiran-Mu, berkata dengan perkataan-Mu, dan melihat dengan mata-Mu ya Allah. Tiada daya dan kekuatan melainkan dari Engkau..

mas Ulil, cukup sampai di sini tulisanku.
Semoga Allah masih menyertai-Mu, dan semoga engkau masih bisa bertobat sebelum ajal menjemput. Jika tidak, wallahu'alam.. hidup hanya sebentar mas Ulil. Jangan tertipu dengan kesenangan yang sementara ini. Mungkin ini nasehat2 yang sering anda angggap "klise " dan penuh "repetitif".

Mas Ulil, saya sudah kehabisan kata-kata...
Mungkin dengan kecerdasan anda, anda akan bisa mematahkan dengan segala upaya dari tulisan ini. Tapi mas Ulil, jika kecerdasan anda, anda arahkan ke hal-hal yang baik dan positif thinking dan dengan nurani yang hidup.. mudah-mudah an anda masih mendapat pertolongan-Nya. Amien .

Mazheri - orang awam yang mencoba menyapa mas Ulil
Wassalam.wrwb.

Read more!

Friday, September 01, 2006

Yang Paling Menakjubkan Imannya

Suatu malam, menjelang waktu subuh, Rasulullah SAW bermaksud untuk wudhu. "Apakah ada air untuk wudhu?" beliau bertanya kepada para sahabatnya. Ternyata tak ada seorang pun yang memiliki air. Yang ada hanyalah kantong kulit yang dibawahnya masih tersisa tetesan-tetesan air. Kantong itu pun dibawa ke hadapan Rasulullah. Beliau lalu memasukkan jari jemarinya yang mulia ke dalam kantong itu. Ketika Rasulullah mengeluarkan tangannya, terpancarlah dengan deras air dari sela-sela jarinya.

Para sahabat lalu segera berwudhu dengan air suci itu. Abdullah bin Mas'ud bahkan meminum air itu. Usai salat subuh, Rasulullah duduk menghadapi para sahabatnya. Beliau bertanya, "Tahukah kalian, siapa yang paling menakjubkan imannya?"

Para sahabat menjawab, "Para malaikat." "Bagaimana para malaikat tidak beriman," ucap Rasulullah, "Mereka adalah pelaksana-pelaksana perintah Allah. Pekerjaan mereka adalah melaksanakan amanah-Nya."

"Kalau begitu, para Nabi, ya Rasulallah," berkata para sahabat. "Bagaimana para nabi tidak beriman; mereka menerima wahyu dari Allah," jawab Rasulullah.

"Kalau begitu, kami; para sahabatmu," kata para sahabat. "Bagaimana kalian tidak beriman; kalian baru saja menyaksikan apa yang kalian saksikan," Rasulullah merujuk kepada mukjizat yang baru saja terjadi.

"Lalu, siapa yang paling menakjubkan imannya itu, ya Rasulallah?" para sahabat bertanya. Rasulullah menjawab, "Mereka adalah kaum yang datang sesudahku. Mereka tidak pernah berjumpa denganku; tidak pernah melihatku. Tapi ketika mereka menemukan
Al-Kitab terbuka di hadapan, mereka lalu mencintaiku dengan kecintaan yang luar biasa sehingga sekiranya mereka harus mengorbankan seluruh hartanya agar bisa
berjumpa denganku, mereka akan menjual seluruh hartanya."

* * *
Hadis di atas dimuat dalam Tafsir Al-Dûr Al-Mantsûr, karya mufasir Jalaluddin
Al-Syuyuti. Mudah-mudahan kita semua termasuk dalam kelompok ini; mereka yang
tidak pernah bertemu dengan Rasulullah tetapi mencintainya dengan sepenuh hati.

Masih dalam kitab ini, diriwayatkan bahwa suatu saat Rasulullah SAW bersabda,
"Berbahagialah mereka, para saudaraku (ikhwâni)." Para sahabat bertanya, "Apakah yang kau maksud dengan ikhwâni itu adalah kami, ya Rasulullah?" "Tidak," jawab Rasulullah, "Kalian adalah para sahabatku. Yang aku maksud dengan
ikhwâni adalah mereka yang datang sesudahku."

Read more!

Friday, August 11, 2006

Cinta dan rindu

dalam sepi ada cinta
dalam riuh ada rindu
menyatu di pintu-Mu
bagai kembara kuarungi laut biru
berlelah-lelah dan tertatih
sebelum pada akhirnya
menjadi daun luruh
di pangkuan-Mu, ya Rabb

ya Rabb, pemilik keabadian
cinta dan rindu untuk-Mu
adalah mimpi yang hakiki
penuh harap dan cemas
bila kutak sampai


mazher'ags-2006

Read more!

Monday, August 07, 2006

Aku Lebih Baik dari Dia.

Oleh : KH. Jalaluddin Rakhmat
Suatu hari, Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa as, "Hai Musa, bila nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia." Nabi Musa as lalu pergi ke mana-mana; ke jalanan, pasar, dan tempat-tempat ibadat. Ia selalu menemukan dalam diri setiap orang itu suatu kelebihan dari dirinya. Mungkin dalam beberapa hal yang lain, orang itu lebih jelek dari Nabi Musa, tetapi Nabi Musa selalu menemukan ada hal pada diri orang itu yang lebih baik dari dirinya. Nabi Musa tidak mendapatkan seorang pun yang terhadapnya Nabi Musa dapat berkata, "Aku lebih baik dari dia."



Karena gagal menemukan orang itu, Nabi Musa masuk ke tengah-tengah binatang. Dalam diri binatang pun ternyata selalu ada hal-hal yang lebih baik daripada Nabi Musa. Seperti kita ketahui, burung Merak, misalnya, bulunya jauh lebih bagus dari bulu manusia. Sampai akhirnya Nabi Musa melewati seekor anjing kudisan. Nabi Musa berpikir, "Mungkin sebaiknya aku pergi membawa dia." Ia pun lalu mengikat leher anjing itu dengan tali. Namun ketika sampai ke suatu tempat, Nabi Musa melepaskan anjing itu.

Ketika Nabi Musa datang untuk bermunajat lagi di hadapan Allah SWT, Tuhan bertanya, "Ya Musa, mana orang yang Aku perintahkan kepadamu untuk kaubawa?" Nabi Musa menjawab, "Tuhanku, aku tidak menemukan seseorang pun yang aku lebih baik darinya." Tuhan lalu berfirman, "Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang kepadaku dengan membawa seseorang yang kamu pikir kamu lebih baik darinya, Aku akan hapuskan namamu dari daftar kenabian."

Kata ana khairun minhu atau "Aku lebih baik dari dia" pertama kali diucapkan oleh Iblis untuk menunjukkan ketakaburannya. Tuhan menyuruhnya untuk sujud kepada Adam as tapi Iblis tidak mau. Ia beralasan, "Aku lebih baik dari dia. Kau ciptakan aku dari api dan Kau ciptakan dia dari tanah." Takabur yang dilakukan oleh Iblis pertama kali itu adalah takabur karena nasab, takabur karena keturunan.

Menurut Al-Ghazali, di antara beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi takabur dan berfikir, "Aku lebih baik dari dia," adalah nasab. Iblis adalah tokoh takabur karena nasab yang paling awal. Kebanggaan atau kesombongan karena nasab ini pernah menjadi satu sistem dalam masyarakat feodal. Feodalisme adalah sistem kemasyarakatan yang membagi masyarakat berdasarkan keturunannya. Sebagian masyarakat disebut berdarah biru dan sebagian lagi berdarah merah.

Ada sebuah buku yang dengan secara terperinci mengkritik sebagian sayyid atau keturunan Rasulullah saw yang merasa bahwa mereka lebih utama dari orang yang bukan sayyid. Sebagian sayyid itu berpendapat bahwa jika ada orang bukan sayyid yang beramal saleh sebanyak-banyaknya, derajatnya akan tetap lebih rendah dari seorang sayyid yang beramal maksiat. Menurut penulis buku tersebut, seorang sayyid yang berpendapat seperti itu pastilah seorang sayyid yang ahmaq atau tolol. Dalam salah satu buku itu, ia memberikan contoh sayyid yang berpikiran seperti itu sebagai orang yang takabur karena nasabnya. Ternyata, penulis buku itu pun adalah seorang sayyid. Namanya Al-Sayyid Abdul Husain Asghai.#

Penulis itu mengingatkan saya kepada Imam Ali Zainal Abidin as. Ia pernah menangis terisak-isak di hadapan Baitullah. Thawus Al-Yamani mendekatinya dan bertanya, "Wahai Imam, mengapa engkau harus beribadat seperti ini? Bukankah kakekmu Rasulullah saw dan ibumu Fathimah as?" Lalu Imam dengan marah menjawab, "Jangan sebut-sebut di hadapanku ibuku dan kakekku, karena Allah SWT akan memberikan surga kepada siapa saja yang taat kepada-Nya, walaupun ia adalah seorang budak dari Afrika. Dan Allah akan memasukkan ke neraka siapa saja yang maksiat kepada-Nya walaupun ia adalah seorang sayyid dari bangsa Quraisy."

Berbangga sebagai keturunan Rasulullah saw saja adalah suatu perbuatan takabur, apalagi berbangga sebagai keturunan bukan Rasulullah saw. Orang yang berbangga karena keturunannya yang bukan Rasulullah saw adalah seperti orang miskin yang takabur. Hal itu bukan berarti orang kaya boleh takabur. Orang kaya yang takabur pun akan dimasukkan ke neraka.

Kehormatan dalam Islam tidak ditegakkan berdasarkan nasab. Tuhan berfirman, "Innâ akramakum ‘indallâhi atqâkum. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa." (QS. Al-Hujrat 13 ) Pernah pada suatu hari, seseorang datang kepada Rasulullah saw dengan membanggakan nasabnya. Di kalangan masyarakat Arab waktu itu, kebanggaan suatu nasab didasarkan pada jumlah jasa yang dilakukan nasab itu. Karena itu, mereka sering menyebut-nyebut jasa orang tua mereka. Orang itu memperkenalkan dirinya dengan menyebut silsilah orang tuanya sampai keturunan kesembilan. Rasulullah saw hanya menjawab pendek, "Wa anta ‘âsyiruhum fin nâr. Dan engkau, keturunan yang kesepuluh, di neraka." Ia masuk neraka karena ketakaburannya.

Ketika berhadapan dengan orang yang takabur karena nasabnya, yang membanggakan kehebatan orang tuanya, Sayidina Ali berkata, "Ucapan kamu benar. Tapi alangkah jeleknya yang dilahirkan oleh orang tuamu."

Al-Ghazali membagi takabur kepada dua bagian. Pertama, takabur dalam urusan agama dan kedua, takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan agama dibagi lagi menjadi dua; takabur karena ilmu dan takabur karena amal. Menurut Al-Ghazali, yang banyak takabur karena ilmu adalah para ilmuwan, filusuf, dan ulama. Apa tanda-tanda orang yang takabur karena ilmunya? Ia tidak mau mendengarkan nasihat dari orang yang lebih bodoh darinya. Ia merasa dirinya paling pintar dan tidak memerlukan bantuan orang lain.

Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional Intelligence, menceritakan kisah dua orang yang lulus bersamaan dari perguruan tinggi. Satu orang di antaranya luar biasa pintar dan lulus dengan nilai tertinggi sementara seorang yang lain lulus dengan nilai pas-pasan. Dua tahun kemudian, diselidiki nasib kedua orang itu. Orang yang pintar itu ternyata menganggur sementara orang yang tidak pintar telah menjadi manajer di sebuah perusahaan. Selidik punya selidik, ternyata orang pintar itu tidak tahan bekerja di satu tempat, karena dia tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Ia merasa dirinya pintar sehingga tidak memerlukan bantuan orang lain.

Takabur yang kedua di dalam urusan agama adalah takabur karena amal. Jika seseorang banyak beramal, ia bisa menjadi sombong. Dalam sebuah hadis diriwayatkan seseorang yang datang ke majelis Nabi. Orang itu dipuji para sahabat karena kebagusan ibadatnya. Tapi Nabi mengatakan, "Aku melihat bekas tamparan setan di wajahnya." Nabi kemudian menyuruh sahabat membunuh orang itu. Orang itu merasa amal dirinya paling baik di antara orang lain. Di waktu lain, Rasulullah saw bersabda, "Jika ada seseorang yang berkata, ‘Manusia ini semuanya sudah rusak,’(dan ia merasa bahwa hanya dirinya yang tidak rusak) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya dia yang paling rusak."

Ada orang yang merasa amalnya sudah bagus sehingga dia merendahkan orang lain. Ada juga orang yang merasa dirinya amat saleh dan segera menganggap rendah orang lain yang tidak salat berjemaah di masjid seperti dirinya. Ia pun mengecam orang lain yang salatnya dijamak. Orang-orang seperti itu termasuk orang yang takabur karena amalnya.

Sayidina Ali mengajarkan kepada para pengikutnya, "Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih muda, berpikirlah dalam hatimu: Pasti dosanya lebih sedikit dari dosaku. Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih tua, berpikirlah dalam hatimu: Pasti amalnya lebih banyak dari amalku." Setiap orang pasti ada kelebihannya. Kita juga punya kelebihan, tetapi hal itu tidak menyebabkan kita menjadi lebih mulia daripada orang lain. Begitu kita merasa diri kita lebih mulia dari orang lain dan ingin diperlakukan sebagai orang mulia secara diskriminatif, kita sudah jatuh kepada takabur. Takaburnya bisa karena ilmu atau karena amal.

Takabur bagian kedua menurut Al-Ghazali adalah takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan dunia disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena nasab, seperti telah dijelaskan di atas. Kedua, karena harta kekayaan. Ketiga, karena kekuasaan. Keempat, karena kecantikan. Kelima, karena banyaknya anak buah dan pengikut. Penyakit yang terakhir ini biasanya diderita oleh para ulama.

Rasulullah saw bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat takabur walaupun hanya sebesar biji sawi." Kita dapat mengukur hati kita, apakah terdapat sebutir takabur atau tidak, dengan menjawab beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut: Ketika Anda masuk ke dalam sebuah majelis dan melihat kawan Anda yang setara dengan Anda duduk di tempat yang lebih mulia, sementara Anda duduk di tempat yang lebih rendah, apakah ada perasaan berat dalam diri Anda? Ketika Anda akan memilih menantu dan memperhatikan keturunan calon menantu itu, lalu ternyata keturunannya tidak sebanding dengan Anda, apakah Anda merasa berat menerimanya? Apakah Anda merasa berat menerima nasihat dari orang yang lebih rendah daripada Anda? Apakah Anda merasa berat untuk memakai pakaian yang jelek ketika menghadiri pengajian? Jika Anda menjawab "ya" untuk salah satu dari pertanyaan di atas, ketahuilah, Anda sudah jatuh ke dalam takabur.

Saya akhiri tulisan ini dengan sebuah hadis. Rasulullah saw bersabda, "Pastilah orang yang takabur itu punya cacat dalam dirinya yang ia sembunyikan." Hadis itu saya kira sangat modern. Menurut Psikologi mutakhir, orang-orang yang arogan atau sombong di dunia ini sebetulnya adalah orang yang menderita cacat tertentu yang tidak kita ketahui dan mereka berusaha menutupinya.

Kita dapat mengobati perasaan takabur dengan istighfar dan bersikap tawadhu. Tidak ada obat bagi takabur selain bersikap rendah hati. Rasulullah saw bersabda, "Jika kamu temukan di antara umatku orang yang bersikap tawadhu, maka hendaklah kamu bersikap lebih tawadhu lagi kepada mereka. Dan apabila kamu temukan di antara umatku orang yang bersikap takabur, maka hendaklah kamu bersikap lebih takabur lagi kepada mereka."

(Ceramah KH. Jalaluddin Rakhmat pada Pengajian Ahad, tanggal 5 September 1999, di Masjid Al-Munawwarah, Bandung. Dengan beberapa perubahan redaksional, ceramah ini ditranskrip oleh Ilman Fauzi R.)

Read more!

Wednesday, August 02, 2006

Allah bersumpah terhadap waktu manusia

demi masa
sesungguhnya semua manusia berada dalam keadaan rugi
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Read more!